Proyek Listrik Limbah Sawit di Tanah Bumbu Hasilkan 30.244 MWh Energi

Senin, 02 Maret 2026 | 12:56:49 WIB
Proyek Listrik Limbah Sawit di Tanah Bumbu Hasilkan 30.244 MWh Energi

JAKARTA - Upaya memanfaatkan limbah cair kelapa sawit sebagai sumber energi terbarukan terus menunjukkan hasil nyata di berbagai daerah. Di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, sebuah proyek pembangkit listrik berbasis limbah sawit berhasil memproduksi listrik hijau sebesar 30.244 megawatt hour (MWh) selama tiga tahun masa operasionalnya. Capaian ini menjadi bukti bahwa limbah industri perkebunan dapat diolah menjadi energi bersih yang berkelanjutan sekaligus berkontribusi pada penurunan emisi gas rumah kaca dan penguatan pasokan listrik nasional.

Inovasi Energi Bersih dari Limbah Sawit

Proyek pengolahan limbah cair kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME) di Tanah Bumbu digarap oleh PT Nagata Bio Energi (NBE) melalui Sukadamai Biogas Project. Perusahaan ini mengelola sekitar 129.331 meter kubik POME setiap tahun. Limbah tersebut kemudian diproses melalui sistem anaerobic digestion hingga menghasilkan biogas yang selanjutnya dikonversi menjadi energi listrik.

Teknologi ini memanfaatkan kandungan organik tinggi dalam limbah cair sawit yang selama ini kerap menjadi persoalan lingkungan. Dengan pengolahan yang tepat, POME dapat diubah menjadi biogas yang kaya metana, sehingga layak digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Listrik yang dihasilkan kemudian disalurkan ke jaringan PT PLN (Persero) sebagai offtaker dan dipasok secara stabil selama 24 jam.

Keberadaan proyek ini tidak hanya menyelesaikan masalah limbah, tetapi juga membuka peluang baru dalam pengembangan energi terbarukan berbasis sumber daya lokal. Di wilayah yang memiliki banyak pabrik kelapa sawit, model seperti ini dinilai sangat potensial untuk direplikasi.

Kontribusi Listrik 30.244 MWh dalam Tiga Tahun

Sepanjang periode 2021 hingga 2023, listrik hijau yang dihasilkan dari Sukadamai Biogas Project mencapai 30.244 MWh. Produksi energi tersebut dipasok secara konsisten ke jaringan listrik nasional, membantu memenuhi kebutuhan energi di Kalimantan Selatan dan sekitarnya.

Pasokan listrik dari proyek ini menjadi salah satu sumber energi bersih yang mendukung bauran energi nasional. Di tengah meningkatnya kebutuhan listrik dan tuntutan pengurangan emisi, keberadaan pembangkit berbasis limbah sawit menjadi alternatif yang strategis.

Dengan kapasitas produksi yang stabil, proyek ini turut memperkuat keandalan sistem kelistrikan, khususnya di wilayah yang dekat dengan sentra perkebunan sawit. Pemanfaatan limbah menjadi listrik juga memberikan nilai tambah ekonomi bagi industri sawit, sekaligus menekan biaya pengelolaan limbah.

Dampak Lingkungan dan Pengurangan Emisi

Selain menghasilkan listrik, proyek ini mencatatkan dampak signifikan terhadap penurunan emisi gas rumah kaca. Selama periode 2021–2023, Sukadamai Biogas Project berhasil membukukan verified emission reductions sebesar 121.919 ton karbon dioksida ekuivalen (CO2e). Rata-rata penurunan emisi tahunan mencapai 40.638 ton CO2e.

Angka tersebut setara dengan emisi tahunan lebih dari 8.000 kendaraan penumpang berbahan bakar bensin. Capaian ini menunjukkan kontribusi nyata proyek dalam mendukung agenda dekarbonisasi nasional serta komitmen Indonesia terhadap pengendalian perubahan iklim.

Atas kinerjanya, PT Nagata Bio Energi juga telah memperoleh Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK) yang tercatat dalam Sistem Registri Nasional (SRN). Sertifikasi ini menjadi pengakuan atas peran proyek dalam menekan emisi dan mendorong praktik industri yang lebih ramah lingkungan.

Selaras dengan Komitmen Transisi Energi Nasional

Inisiatif pengolahan limbah sawit menjadi energi terbarukan ini sejalan dengan target pemerintah dalam Second Nationally Determined Contribution (SNDC), yakni meningkatkan kontribusi energi bersih dan menurunkan emisi karbon secara signifikan. Proyek di Tanah Bumbu menjadi salah satu contoh konkret implementasi komitmen tersebut di tingkat daerah.

Pengembangan pembangkit listrik berbasis biogas dari limbah sawit juga mendukung strategi diversifikasi energi nasional. Ketergantungan pada bahan bakar fosil secara bertahap dapat dikurangi, sementara sumber energi lokal yang berkelanjutan semakin dioptimalkan.

Dalam konteks ketahanan energi, pemanfaatan POME menjadi listrik memberikan manfaat ganda. Selain menambah pasokan listrik, proyek ini turut mendorong kemandirian energi di daerah, mengurangi risiko gangguan pasokan, serta menciptakan ekosistem industri yang lebih hijau.

Potensi Replikasi dan Penguatan Ekonomi Lokal

Keberhasilan proyek Sukadamai Biogas Project membuka peluang besar untuk direplikasi di wilayah lain yang memiliki industri kelapa sawit. Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di dunia memiliki potensi limbah yang sangat besar untuk dikonversi menjadi energi terbarukan.

Dengan teknologi yang relatif matang dan ketersediaan bahan baku melimpah, pengembangan proyek serupa dinilai mampu memberikan dampak ekonomi dan lingkungan yang signifikan. Selain menciptakan lapangan kerja baru, proyek ini juga dapat meningkatkan pendapatan daerah serta memperkuat rantai nilai industri sawit.

Di tingkat lokal, kehadiran pembangkit listrik berbasis limbah sawit memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar. Pasokan listrik yang lebih andal mendukung aktivitas ekonomi, pendidikan, dan layanan publik. Pada saat yang sama, pengelolaan limbah yang lebih baik turut meningkatkan kualitas lingkungan hidup.

Ke depan, sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan penyedia teknologi menjadi kunci untuk memperluas pemanfaatan limbah sawit sebagai sumber energi bersih. Dengan dukungan kebijakan yang tepat dan skema pembiayaan yang berkelanjutan, proyek seperti di Tanah Bumbu berpotensi menjadi model pengembangan energi terbarukan berbasis limbah di Indonesia.

Terkini