JAKARTA - Industri eCommerce Indonesia memasuki babak baru pada 2026.
Jika pada fase awal pertumbuhan persaingan ditentukan oleh seberapa besar diskon dan promo yang ditawarkan, kini lanskap tersebut berubah drastis. Konsumen tidak lagi terpikat semata oleh potongan harga.
Mereka menuntut lebih keaslian produk, kualitas layanan, serta pengalaman belanja yang konsisten dan dapat dipercaya. Inilah fase yang disebut sebagai confident commerce.
Sebagai salah satu pionir eCommerce di Indonesia sejak 2012, Lazada Indonesia mencermati pergeseran perilaku belanja masyarakat yang semakin matang. Konsumen kini jauh lebih rasional, selektif, dan berani melakukan transaksi bernilai tinggi secara online, selama ada jaminan kualitas dan perlindungan konsumen yang jelas.
CEO Lazada Indonesia, Carlos Barrera, menegaskan bahwa industri eCommerce telah bertransformasi secara fundamental.
“eCommerce tidak lagi hanya menyediakan akses pasar. Fokusnya kini adalah membangun kepercayaan. Ketika konsumen yakin pada keaslian dan kualitas produk, mereka akan berbelanja lebih besar dan lebih bernilai. Di titik itu, eCommerce berfungsi sebagai infrastruktur pertumbuhan bagi konsumen dan brand,” ujarnya.
Perubahan ini juga sejalan dengan laporan e-Conomy SEA yang dirilis oleh Google, Temasek, dan Bain & Company. Laporan tersebut memproyeksikan nilai transaksi bruto (GMV) eCommerce Indonesia mencapai US$140 miliar pada 2030, tertinggi di Asia Tenggara. Dari dinamika inilah Lazada mengidentifikasi lima kekuatan baru yang membentuk wajah eCommerce Indonesia sepanjang 2026.
Kepercayaan Menjadi Fondasi Utama Belanja Online
Makna “nilai” dalam belanja online kini mengalami evolusi besar. Harga murah bukan lagi satu-satunya pertimbangan. Konsumen Indonesia semakin memperhitungkan kualitas produk, keaslian barang, keamanan transaksi, serta keseluruhan pengalaman belanja.
Perubahan ini sangat terlihat pada segmen keluarga muda dan konsumen aspirasional. Mereka semakin mengandalkan eCommerce untuk membeli produk bernilai tinggi seperti elektronik, peralatan rumah tangga, hingga produk kesehatan.
Laporan Cube Asia 2025 mencatat bahwa 80 persen konsumen Indonesia memilih berbelanja di online mall karena adanya jaminan kualitas dan perlindungan konsumen.
Carlos menegaskan bahwa kepercayaan tidak cukup dibangun melalui keberadaan official store semata. “Kepercayaan tidak bisa dibangun hanya lewat official store. Platform harus memperkuat sistem, tata kelola, dan perlindungan ekosistem agar konsumen berani bertransaksi dalam nilai besar,” jelasnya.
Belanja Online Selaras dengan Fase Kehidupan Konsumen
Perilaku belanja masyarakat Indonesia semakin terhubung dengan fase kehidupan yang sedang dijalani. eCommerce kini menjadi bagian dari proses transisi penting, mulai dari membangun keluarga, merenovasi rumah, hingga mengadopsi gaya hidup yang lebih sehat.
Tren ini mendorong lonjakan permintaan pada kategori life-upgrade, seperti elektronik, peralatan rumah tangga, furnitur, otomotif, dan produk kesehatan.
Brand lokal maupun global memiliki peran strategis dalam menyediakan pilihan produk di berbagai rentang harga. Dengan demikian, konsumen dapat melakukan trade up secara terencana tanpa harus mengorbankan stabilitas finansial.
Premiumisasi Produk dengan Pendekatan Value-for-Money
Salah satu tren paling menonjol pada 2026 adalah meningkatnya minat terhadap produk premium yang tetap rasional dari sisi harga. Konsumen memandang belanja sebagai investasi jangka panjang, terutama untuk produk yang berdampak langsung pada kualitas hidup.
Kategori kecantikan, elektronik, dan kebutuhan rumah tangga mencatat permintaan tinggi terhadap produk kelas atas. Namun, premiumisasi kini tidak berdiri sendiri. Konsep value-for-money menjadi kunci.
Fitur seperti voucher, cicilan, poin loyalitas, dan promosi personal memungkinkan konsumen mengakses produk premium tanpa kehilangan kendali finansial. Inilah redefinisi baru keterjangkauan di eCommerce Indonesia.
Program Membership sebagai Pilar Loyalitas Jangka Panjang
Diskon instan yang bersifat sesaat semakin kehilangan daya tariknya. Sebagai gantinya, platform eCommerce mengembangkan program membership berjenjang yang memberikan manfaat berdasarkan frekuensi dan nilai belanja.
Model ini memberikan keuntungan bagi seluruh ekosistem. Konsumen premium terdorong untuk naik level keanggotaan, konsumen sensitif harga memusatkan belanja di satu platform, sementara brand memperoleh permintaan yang lebih stabil dan terprediksi.
“Membership bukan sekadar promosi, tetapi fondasi engagement dan kepercayaan jangka panjang. Inilah mengapa kami terus memperkuat Lazada Membership,” ungkap Carlos.
Konten Kreator dan Afiliator sebagai Mesin Pertumbuhan Baru
Kreator konten, khususnya afiliator, kini menjadi ujung tombak pertumbuhan eCommerce. Ulasan autentik, demonstrasi produk, dan pengalaman nyata jauh lebih berpengaruh dibanding iklan konvensional.
Peran kreator tidak lagi sebatas pemasar. Mereka menjadi pendidik produk, penghubung antara brand dan konsumen, serta penggerak keputusan pembelian lintas segmen. Untuk memperkuat ekosistem ini, Lazada mengalokasikan investasi tahunan sebesar USD100 juta melalui program Lazada Affiliate.
“Bukan sekadar pemasar, bagi kami konten kreator adalah mitra strategis,” tambah Carlos.
Menyongsong Era Confident Commerce di Indonesia
Kelima tren tersebut menandai pergeseran eCommerce Indonesia dari sekadar mengejar volume transaksi menuju penciptaan dampak nyata bagi kualitas hidup konsumen. Kepercayaan, kualitas, loyalitas, serta kolaborasi dengan konten kreator menjadi fondasi utama pertumbuhan.
Dengan arah transformasi ini, Lazada optimistis Indonesia siap memasuki era confident commerce. “Di pasar dengan pilihan nyaris tak terbatas, platform yang akan terus tumbuh adalah yang membantu konsumen menjalani hidup lebih baik. Itulah komitmen utama Lazada,” tutup Carlos Barrera.